3 Tahapan Perkembangan Emosi Anak yang Penting untuk Diketahui

Emosi, siapa yang paham betul tentang emosi? Perkembangan manusia serba dinamis menjadikan psikologis tidak kehabisan bahan penelitian. Di usia belia, perkembangan emosi anak saja sudah mulai sulit dicerna. Butuh waktu untuk memahami apa yang dirasakan anak. Terlebih keterbatasan kosa kata anak membuat analisa sedikit lebih rumit lagi.

Pepatah mengatakan, pendidikan anak dimulai dari lingkungannya, dan hal ini tidak salah. Lingkungan sendiri terbagi menjadi 3 yakni orang tua, keluarga, baru eksternal. Kenapa orang tua masuk dalam lingkup pertama? Hal ini dikarenakan, pada umunya masa kecil anak dihabiskan bersama orang tua. Sehingga, wajar kiranya jika orang tua yang paling memahami, dan paling memengaruhi perkembangan emosi anak.

Rasa ingin tahu yang terpendam dalam diri manusia harus tertanam dalam diri orang tua. Munculnya penasaran biasanya dimulai dari kepedulian. Bila Anda membaca artikel ini karena rasa sayang pada anak, maka selamat, karena tindakan Anda sudah tepat. Berikut 3 tahapan perkembangan emosi anak yang penting untuk diketahui orang tua.

Tahapan Perkembangan Emosi Anak

Tumbuhnya rasa percaya pada orang tua adalah salah satu perkembangan emosi anak

Tumbuhnya Rasa Percaya pada Orang Tua

Luka bisa beragam bentuk. Paling mudah dipahami dan dilihat yakni luka fisik. Entah pukulan, tendangan, jatuh dari ketinggian, atau tergores benda tajam. Tidak sulit memahami maupun menggambarkan rasa sakit tersebut.

Anak – anak belum mampu memahami perasaan kompleks. Tantangan awal dalam hidupnya berupa luka. Sangat mudah menggambarkan apa yang dia rasakan jika sekedar memar dan benjol, tinggal tunjuk semua orang akan paham. Pada kasus biasa, luka hanya mengakibatkan rasa kapok melakukan sesuatu, tapi ada juga dampak luka lain.

Orang dewasa yang paling dekat dengan anak menjadi satu – satunya manusia yang dipercaya untuk pertama kali. Rasa aman dari perlindungan yang diberikan menjadikan hidup anak lebih optimis. Tanpa ada tantangan hidup sekalipun, meninggalkan rahim ibu berarti meninggalkan ‘rumah aman’, wajar jika rasa takut menghantui anak–anak.

Setiap kali anak disakiti entah karena dianggap berbuat kesalahan atau tidak, kepercayaan mereka akan surut secara perlahan. Orang tua yang terlalu keras menghukum anak secara fisik di usianya yang masih muda juga akan menimbulkan trauma. Kepercayaan terhadap orang dewasa akan hilang dengan sendirinya dan berubah menjadi dendam. Banyak kasus pelaku kejahata moral diakibatkan pelecehan maupun hukuman fisik semasa kecil.

Anak-anak masih rentan dengan beragam pengalaman. Orang tua semestinya membimbing dengan tutur kata lembut namun tegas. Percaya pada anak agar mereka juga menumbuhkan rasa percaya kepada orang tua.

Kepercayaan Diri

Sejak lahir hingga dalam usia kanak-kanak hidup seorang anak selalu dalam perlindungan. Awalnya memang perlindungan orang tua sangat diperlukan. Ketika bayi, seorang anak tak mampu melihat atau mendengar dengan jelas. Fase hidup pertama bayi bak kotak sempit nan gelap di mana tak ada suara dan tak ada bantuan. Hingga kehangatan tangan orang tua memberi ketenangan di antara keheningan yang menyeliputi anak.

Ketika usia bertambah, secara fisik tubuh bayi makin kuat, organ-organnya puns emakin sempurna. Anak-anak mulai bergerak dengan aktif, mulai memiliki pendapat dan dapat menganalisa situasi. Bantuan ayah dan ibu secara umum tidak terlalu dibutuhkan, toh sekarang anak bisa melakukan banyak hal secara mandiri. Rasa percaya diri anak juga tumbuh makin besar.

Kesombongan sudah menjadi sifat dasar manusia. Ilmu yang hanya setetes bak selaut penuh, sama halnya dengan tahapan perkembangan emosi yang satu ini. Perasaan anak diselimuti keyakinan segala langkah dan keputusan bisa diambil sendiri. Orang tua harus siap ketika anak mulai memberikan menolakan karena ia merasa mampu.

Pada tahap ini sebenarnya anak sedang mengembangka kepercayaan diri. Stimulasi yang tepat dari orang tua yang berupa keyakinahn bahwa anak-anak ‘bisa’, ditambah tidak over protective pada anak, keduanya dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang besar dalam diri anak.

Kemampuan berkomunikasi

Perkembangan kemampuan berkomunikasi pada anak

Ulang tahun kelima seolah menandakan keberhasilan orang tua yang pertama. Secara fisik anak-anak terlihat makin kuat,  kemampuan berbicara makin cakap, dan mereka mulai mengenali emosi orang lain.

Pada umunya anak akan mulai berceloteh ria dan berharap didengarkan dengan seksama, atau kalau bisa ditanggapi dengan antusiasme yang tinggi.

Sebagai mahluk sosial, tentu anak akan senang berkelompok. Membawa anak ke PAUD, play ground, TK, aktivitas keagamaan di komplek akan sangat membantu. Dengan bergabung di suatu komunitas, anak akan mengenal mahluk lain dengan pola pikir yang sama dan kemampuan setara. Batu lonjakan sosial anak dimulai ketika dirinya mulai berkomunikasi dengan teman seusianya.

Masih banyak tahapan perkembangan emosi anak yang dapat ditelusuri orang tua. Namun tiga hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena rasa percaya, kepercayaan diri, dan kemampuan berkomunikasi sangat memengaruhi kehidupan seorang anak di masa depan.

Semakin bertambah usia anak, cara emosi juga semakin matang dan mulai belajar beradaptasi dengan lingkungannya. Untuk itu Orang tua perlu menyediakan ruang bermain bersama agar anak-anak terus mengembangkan emosi, belajar berkomunikasi dan berempati pada orang lain.

Leave a Comment