Berat Badan Bayi dalam Kurva Kuning KMS, Berbahayakah?

berat badan bayi www.facebook.com/ibudanbalita

Berat badan bayi kadang naik dan kadang turun. Bagi ibu yang hanya memberikan ASI eksklusif saja, kemungkinan besar BB si kecil cenderung rendah, jauh di bawah bayi yang mendapatkan asupan gizi dari sufor atau susu formula. Apakah itu pertanda buruk?

Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bayi yang sehat itu tidak harus gemuk dan besar. Seperti halnya orang dewasa, ada yang memiliki tubuh besar, ada yang kecil. Begitu pula bayi.

Ukuran sehat atau tidak bay itu ditentukan oleh KMS. Jika berat badan si kecil masih berada di kurva kuning, maka tidak ada yang perlu ditakutkan meskipun ukuran tubuh sang buah hati kecil.

Apa itu KMS?

KMS kepanjangan dari kartu menuju sehat. Ini sebuah kartu yang diberikan kepada semua ibu di Indonesia yang memiliki bayi. Kartu ini sebagai acuan pertumbuhan bayi dan balita.

Namun, KMS ini juga memiliki dua fungsi lain selain untuk mengkur dan mengetahui pertumbuhan bayi atau balita. Fungsi lainnya adalah sebagai catatan yang tuliskan oleh petugas pelayanan kesehatan anak. Jadi, buku ini harus dibawa ketika ibu melakukan pengecekan kesehatan anak sehingga petugas kesehatan akan memberikan catatan penting seperti hanya imunisasi.

Selain itu, KMS ini juga menjadi sarana edukasi yang dilakukan oleh kader posyandu. Kader akan mengajari ibu bagaimana mengamati perkembangan bayi melalui kurva. Kurva tersebut sebagai tolok ukur apakah berat badan bayi normal atau tidak.

Jadi, itulah apa yang dimaksud dengan KMS dengan tiga fungsi utamanya. Lalu, bagaimana jika berat badan si kecil berada pada kurva kuning?

BB si Kecil Pada Kurva Kuning

Sebenarnya, jika BB bayi berada pada kurva kuning itu belum dikategorikan berbahaya. Hanya saja, beberapa ahli kesehatan bayi terlalu gegabah sehingga mereka sering memberikan masukan agar bayi diberikan susu formula.

Padalah, ada faktor lain untuk menujukkan kesehatan bayi yang harus diperhatikan selain berat badan. Artinya, berat badan bayi yang ada pada kurva kuning tidak mutlak menunjukkan kesehatan si kecil menurun.

Setidaknya ada faktor lain yang harus dilibatkan sehingga petugas kesehatan tidak terlalu terburu memvonis kesehatan si kecil menurun.

  • Bentuk Fisik Orang Tua

Faktor genetik sangat mempengaruhi kondisi fisik si kecil. Ibu pasti tahu itu. Ada bayi yang sama-sama berusia 7 bulan namun ukuran tubuhnya serta berat badannya berbeda. Lihat saja orang tuanya karena faktor genetik juga menurun pada anak. Jika orang tuanya pendek dan kecil, maka wajar jika berat badan bayi lebih rendah daripada bayi yang lahir dari orang tua bertubuh besar. Kira-kira seperti itu ilustrasi sederhananya.

  • Perhatikan Pertumbuhan Bayi

Sekali lagi, berat badan itu tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan bayi sehat atau tidak. Yang perlu diperhatikan juga adalah pertumbuhan bayi, apakah konsisten atau tidak.

Ada satu kasus di mana bayi lahir dengan bobot 2,2 kg saja. Menurut standar WHO, bayi tersebut memiliki berat badan di bawah normal. Namun, perhatikan perkembanganya ketika sudah berusia 1-2 bulan. Jika perkembangannya konsisten sampai usia 7 bulan atau bahkan 1 tahun, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekalipun berat badan si kecil dibawah bayi yang sebayanya. Jadi, yang tak kalah penting adalah perkembangannya.

Jadi, ibu tidak boleh langsung menvonis ada masalah dengan kesehatan bayi ketika berat badannya berada di kurva kuning KMS karena ada faktor lain yang mempengaruhi berat badan bayi.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*