Yuk Nikmati Berkah Ramadan Bersama Keluarga

An Middle Eastern Culture family eat together.

Berkah Ramadan salah satunya dapat menghangatkan suasana dalam keluarga Anda loh.  Memang benar, ibadah Ramadan untuk Allah, tapi rahmat dan kebaikannya terasa melimpah ruah bagi segala sisi kehidupan makhluknya, salah satunya bagi keluarga kita tercinta.

Allah ternyata memberikan satu bulan yang mengharuskan kita merubah jadwal rutinitas, tapi dari perubahan itulah segalanya akan terasa beda, terasa lebih manis.  Apa saja kehangatan keluarga yang dapat terjalin di bulan Ramadan? Bagaimana cara meraihnya? Yuk kita perhatikan agar momen Ramadan selama sebulan ini tak sia-sia.

Bagi keluarga tertentu yang anggota keluarganya sibuk dalam kegiatan masing-masing, tentu seringkali tidak memiliki momen bersama. Orangtua sibuk bekerja, anak-anak yang belajar tidak hanya di jam sekolah, intensitasnya lebih banyak dalam kegiatan sehari-hari. Tentu suasana demikian tidak terlalu diharapkan, bukan?

Rutinitas Ramadan yang sedikit berbeda, menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul bersama. Memperbaiki komunikasi, menjalin kehangatan, juga menjalin suasana keagamaan keluarga untuk memenuhi kebutuhan rohani setiap anggotanya. Semuanya itu dapat kita latih, seperti dicontohkan oleh Rasulullah.

Makan Bersama

Salah satu rutinitas itu adalah makan bersama yang sangat sulit dilakukan. Apalagi jika anggota keluarganya sibuk pada kegiatan masing-masing. Namun, dalam Ramadan, momen makan bersama itu dapat kita temukan saat sahur dan buka puasa.

Makan sahur yang dianjurkan dapat menjadi momen untuk meraih kehangatan keluarga dan pahala di bulan puasa. Selain sahur dapat membantu kesehatan fisik Anda di siang hari, makan sahur menumbuhkan kebersamaan di keluarga. Pastikan semuanya sahur secara bersama, berhimpun dalam satu meja makan, dan diawali dengan doa-doa yang dipimpin oleh orangtua.

Ciptakan juga momen-momen manis saat makan ya, semisal saling ambilkan makanan, bahkan saling suap.  Selepas sahur, usahakan jangan tidur, tapi sholat berjamaah di masjid atau rumah dan lanjutkan dengan mengaji bersama. Momen kebersamaan di pagi hari pun akan berlipat-lipat ganda.

Begitu pula dengan pendidikan untuk mengakhirkan sahur yang penuh dengan kebaikan. Dalam sebuah hadits diterangkan: Dari Anas RA, “Kami sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian kami bangkit untuk shalat. Aku berkata kepada beliau, “Berapa lama antara keduanya (sahur dan shalat subuh)?” Beliau menjawab, “Kira-kira orang membaca lima puluh ayat.” (HR. Muslim)

Pertanyaannya, bukannya bulan Ramadan kita harus tetap kerja, ya? Tenang, selepas sibuk pada pekerjaan masing-masing dari pagi hingga sore, biasanya keluarga dapat kembali bertemu di momen buka puasa. Alangkah lebih baiknya, jika Anda menyiapkan buka puasa itu bersama-sama. Sambil menghabiskan waktu menunggu waktu buka agar tak terlalu terasa. Anda bisa membuat sirup bersama, membuat kue, bahkan masak bersama jika memungkinkan. Di sana, akan ada momen indah, percayalah.

Tiba adzan maghrib, duduklah kembali bersama keluarga. Mengajak keluarga untuk berdoa dengan ada anggota keluarga yang memimpin dapat menciptakan harmoni dalam keluarga. Alangkah lebih baik, selain disupi makanan, keluarga pun diasupi oleh nilai-nilai rohani yang sangat bermanfaat bagi kehidupan keluarga lewat kuliah tujuh menit (kultum). Temanya bisa berganti-ganti, semisal “menjadi anak soleh”, “sholat sebagai cahaya di sebuah keluarga”, dan tema-tema penting lainnya.

Ibadah Bersama

Bulan Ramadan tentu menjadi bulan yang baik untuk memperbaiki spiritualitas kita. Apakah Anda tak tergoda dengan pahala yang berlipat-lipat ganda di bulan ini? Juga dosa-dosa yang janji akan dihapuskan jika kita bersungguh-sungguh puasa dan terus meminta ampunannya. Di antara banyak ibadah itu, alangkah akan lebih indah jika dilaksanakan bersama keluarga. Sebab bagaimanapun, amalan ibadah keluarga akan dipertanggungjawabkan.

Kesempatan ibadah ritual yang tidak ada di bulan lainnya adalah salat tarawih. Momen ini dapat dijadikan kesempata bagi keluarga Anda untuk pergi ke masjid bersama-sama. Bisa juga sesekali dilakukan berjamaah di rumah bersama keluarga.

Keharmonisan keluarga pun akan semakin meningkat dengan melaksanakan program tadarus (membaca Al-Quran) bersama-sama. Tadarus biasanya diprogramkan dengan target tertentu, misalkan saja tiga kali tamat Al-Quran selama bulan Ramadan. Alangkah lebih baik tadarus ini dilakukan secara bergiliran setiap anggota keluarga diberi giliran untuk membaca. Momen ini dapat dijadikan cara untuk mengetahui keterampilan anggota keluarganya membaca.

Momen kebersamaan saat tadarus Al-Quran pun akan terjalin jika kita memiliki anak yang belum bisa mengaji. Orang tua dapat mengajarkan langsung kepada anak mereka. Tentu, anak mereka pun akan merasakan sentuhan yang berbeda dari orangtuanya, bahwa orangtuanya masih mampu mendidiknya secara langsung.

Kita bersama keluarga pun dapat melakukan I’tikaf (beribadah di sepanjang malam) di sepuluh malam terakhir. Ibadah itu dilakukan untuk menunggu malam Lailatul Qodar, malam yang lebih baik dari 1001 malam. Sang Ayah dan anak laki-laki bisa pergi bersama ke masjid, dan merasakan kehangatan yang terjalin di luar rumah, apalagi di rumah ibadah yang penuh berkah. Sang istri cukup di rumah, atau turut pergi ke masjid yang memercayai dan menyelenggarakan I’tikaf untuk jamaah perempuan.

Kegiatan ini adalah tradisi Rasulullah. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits dari Aisyah RA, “Bila masuk malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya (tidak menggauli istri-istrinya).” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Yuk, kita raih berkah Ramadan dengan keluarga. Agar keluarga kita mencapai derajat sakinah, mawadah, dan warahmah.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a comment

Your email address will not be published.


*