Tips Bepergian Dengan Bayi Dan Posisi Menyusui Yang Benar

posisi menyusui yang benar Source: Pregnant Chicken

Siapa yang tidak senang jalan-jalan? Mungkin Anda yang dulunya single, sekarang sudah harus membawa si kecil di dalam perjalanan. Sampai di tujuan kedengaran mudah dan menyenangkan. Lain cerita dengan perjuangan mencapai destinasi kampung halaman. Membawa diri sendiri saja sudah susah terlebih lagi dengan tanggungan mahluk hidup kecil nan rentan ini di tangan ayah bunda. Tenang, kalau tahu cara mudik bawa bayi harusnya bunda sudah tidak mengalami ‘bencana’ selama perjalanan.

Namanya bayi, masih butuh air susu ibu. World’s health organization atau organisasi kesehatan dunai menyarankan pemberian air susu ibu ekslusif sampai dengan usia enam bulan. Beberapa ahli bahkan memberi pendapat bahwa usia dua tahun masih layak menyusui. Ya, keseimbangan gizi dan antibody pada air susu bunda seharusnya bantu menekan kemungkinan bayi jatuh sakit di tengah jalan. Maka dari itu, sebelumnya membahas Posisi menyusui bayi konvensional.

Pertama, bunda duduk dengan memangku bayi di tangan dengan lengan menjadi penyangga kepala dan gunakan tangan sebelah guna menyangga bagian punggung bayi. Kalau bayi sudah mulai nyaman,  tangan bunda yang sedikit lebih bebas digunakan untuk menopang dada.

Rebahkan bayi dalam posisi miring, pastikan bayi nyaman dan dapat menyentuh bunda. Jika bunda menyusui dengan payudara kiri, gunakan tangan kanan untuk menopang badan bayi, dan tangan lainnya untuk menopang kepala bayi. Jari tangan menopang dada kiri. Posisi ini cukup tepat karena terasa naluriah dan intim, ibu dapat merasakan sentuhan badan antar bayi dan dirinya ketika menyusui.

Untuk menyusui dengan payudara kiri, letakkan bayi pada posisi kiri dengan disangga punggung. Rebahkan bayi menghadap ibu, dagu bayi menyentuh ibu. Tangan kanan akan menopang badan bayi, dan tangan kanan pula yang menopang kepala bayi. Majukan bayi menuju arah payudara. Beberapa ibu lebih nyaman dengan bayi berselimut lengan ibu.

Posisi seperti ini cukup populer untuk menyusui saat malam hari dan awal kelahiran. Posisi ini juga efisien ketika buah hati membangunkan ibu pada malam hari atau pada pagi hari ketika ibu masih nyaman rebahan. Sebelum mencoba cara satu ini, alangkah lebih baik jika bayi sudah mengenal kegiatan menyusui.

Secara garis besar posisi tersebut bisa dibilang sangat umum untuk bayi yang lebih tua dan sudah hapal kegiatan menghisap susu ibu. Perlu diingat bahwa posisi konvensional akan sulit ketika harus mengontrol posisi kepala bayi, sehingga usahakan jangan menggunakan posisi konvensional pada saat jalan berbatu atau kasar karena beresiko membuat bayi tersedak.

Tidak semua bunda punya pengalaman sama. Beberapa bunda bisa saja terbilang pemula dalam proses menyusui, menjadikan keahlian satu ini patut dipertimbangkan. Teknik bantu tradisional jawa seperti bedong, justru diciptakan untuk mempermudah bunda di tanah air dalam membesarkan bayi termasuk dalam perjalanan sekalipun. Ingat, jaman dulu semua orang menggunakan kaki untuk berpergian kemanapun.

Modal kain saja sebetulnya sudah cukup bila ingin memberi kenyamanan bagi bayi. Berbeda dengan tangan, kain secara otomatis ‘mengikat’ posisi bayi sehingga tidak berubah selama proses menyusui. Cara menggunakannya serupa dengan pola menyusui konvensional, bedanya bunda menggantikan tangan dengan kain. Saran dari ibu mertua bisa memberi pencerahan yang baik dalam menggunakan bedong.

Bingung kalau memasang bedong sendiri ? tenang saja, bunda bukan satu – satunya. Beberapa alat serupa dengan bedong banyak diciptakan dunia barat. Tas penggendong misalnya, dipasang di dada dan bayi didekap. Sebenarnya tidak berbeda jauh cara menyusui dengan tas punggung atau menggunakan bedong. Perbedaan terbesar adalah bayi dengan bedong menyusui dalam posisi miring sedangkan menggunakan tas gendong bayi menyusui dalam posisi lurus.

Kini bunda sudah lebih paham mengenai posisi menyusui saat berpergian , masih ada beberapa cara mengenyangkan perut bayi yang bunda harus tahu pula. Bunda tidak mungkin menyusui setiap waktu, mudik sudah menguras sebagian besar tenaga bunda, dan payudara tidak selalu menyediakan susu yang cukup kala bunda sudah sangat lelah. Meminta bantuan ayah tentu tidak mungkin lagi mengingat kelenjar susu pria tidak membantu banyak.

Teknologi seperti pompa payudara dan botol sudah tidak jarang ditemui. Banyak produsen dan lini bisnis menawarkan metode penyetoran air susu ibu untuk berpergian. Ya, salah satu jalan mengatasi rasa lapar bayi tanpa menguras tenaga bunda lebih lanjut adalah mempersiapkan air susu bunda dari awal. Estimasikan seberapa banyak bayi akan membutuhkan makanan selama perjalanan dan berapa kali dengan demikian bunda bisa lebih menyiapkan medan perang.

Sebelum berangkat, bunda wajib bangun lebih pagi untuk memindahkan air susu ibu dari payudara ke dalam botol, kalau perlu bicarakan dengan pasangan bahwa sampai dengan usai menyiapkan ‘amunisi’ mudik, bayi menjadi tanggung jawab ayah. Konsentrasi dan tidak buru – buru akan sangat diperlukan dalam proses pemindahan air susu ibu.

Prosedur pengawetan dengan pendinginan sudah banyak dilakukan, terlebih dengan kehadiran wadah penjaga suhu tentu lebih gampang lagi. Ya, bunda bisa membekukan air susu ibu atau susu formula tapi jangan sampai terlalu beku hingga jadi es kalau sudah mendekati tempat tujuan. Setelah memanaskan dengan merebus botol, praktekkan posisi menyusui yang benar dan nikmati keringan yang diberikan.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a comment

Your email address will not be published.


*