Tantangan Beserta Solusi Hadapi Masa Tumbuh Gigi Pada Bayi

tumbuh gigi pada bayi Mother Nature Network
tumbuh gigi pada bayi

Mother Nature Network

Dalam hidup ini, selalu ada serangkaian kejadian yang harus dilalui supaya menuju pribadi yang lebih baik lagi. Bahkan bayi yang sepertinya tidak punya beban hidup sekalipun harus menghadapi babak dalam hidupnya guna melanjutkan proses tumbuh kembangnya. Salah satu ‘babak’ yang cukup bikin geleng-geleng kepala, dan ambil nafas panjang adalah tumbuh gigi pada bayi.

Kala pertama membesarkan bayi, mungkin tidak tahu mimpi buruk masa tumbuh gigi. Beberapa orang tua bisa saja menggambarkan masa tumbuh gigi jauh lebih mengerikan dibanding bulan pertama bayi lahir. Pasalnya, tidak hanya badan orang tua yang kerap lelah, namun juga raungan memilukan dari bayi benar-benar mengasah mental dan menguji kasih sayang.

Manusia sebagai mahluk sosial otomatis mengandalkan komunikasi sebagai salah satu langkah bertahan hidup. Sedangkan bayi, lidah masih kelu dengan kosakata yang cukup terbatas, menjadikan komunikasi sangat sulit dilakukan. Orang tua musti berjuang untuk mengetahui apa yang bayi coba sampaikan. Dilema komunikasi kian menjadi kala masa tumbuh gigi bayi. Kalau alat penerjemah bayi sudah diciptakan, pasti langsung populer diborong massa.

Keterbatasan manusia adalah kunci perkembangan ilmu pengetahuan. Walaupun bayi pada umumnya tidak mampu bicara, tak menutup kemungkinan bahasa tubuh saja sudah cukup. Rasa empati dalam diri manusia tidak diciptakan untuk sekedar kasihan pada korban bencana atau pengemis di jalanan, justru perasaan inilah yang membantu pemahaman ayah bunda terhadap buah hatinya.

Penelitian lengkap dengan pembelajaran insentif terhadap kondisi tumbuh gigi bayi memberi secercah pemahaman kondisi si kecil. Sebagai contoh, mengetahui proses tumbuh gigi saja, ayah dan bunda bisa bayangkan betapa berat penderitaan bayi. Proses tumbuh gigi secara gamblang adalah cikal bakal gigi ‘merobek’ gusi supaya bisa muncul ke permukaan. Masalahnya, bayi masih dalam kondisi sangat lemah sehingga robekan gusi saja terasa begitu menyiksa dan tidak nyaman, ditambah tidak tersedianya peredam rasa sakit membuat tumbuh gigi seperti operasi gawat darurat tanpa alat bantu.

Setiap langkah selalu ada proses. Bayi yang mulai tumbuh gigi ditandai awal dengan keluarnya air liur berlebihan. Penelitian telah membuktikkan produksi air liur bayi meningkat signifikan sejak memasuki usia tumbuh gigi. Air liur memang dapat diandalkan guna menghilangkan bakteri dan kuman dalam mulut selama pertumbuhan, meskipun dibalik pertahanan tubuh satu ini, terdapat resiko.

Bila bibir terasa kering, jangan dijilat karena justru makin parah. Nasihat tersebut tentu sangat terkenal di kalangan perempuan. Ya, memang air liur tidak diciptakan untuk melembabkan bibir, maka dari itu merek lip moisturizer dan lip balm beredar di pasaran. Kejadian serupa dialami oleh bayi dimana tetesan air liur menghiasi ruang mulut dan bikin kering. Tidak sampai disitu saja, perlahan tapi pasti air liur yang menempel pada kulit wajah bisa berujung sariawan serta ruam menyakitkan.

Tanggungan bayi kian parah kalau melihat gusi bayi. Rasanya begitu lembek, memerah dan bengkak. Sudah wajah diserang air liur yang bikin kering, belum ditambah rasa sakit yang harus diderita. Wajar saja bila bayi terus menangis dan mengamuk selama fase tumbuh gigi. Ayah bunda yang punya bayi setidaknya usia 6 bulan tentu sudah hapal bagaimana mengerikannya tangisan dan amukan bayi kalau sudah merasa kesakitan luar biasa .

Salah satu kebiasaan unik yang berasal dari pemikiran otodidak si kecil adalah teething. Bayi sadar, rasa tidak nyaman dalam mulut bisa diatasi dengan menghantamkan objek eksternal pada gusi. Mulai dari mainan, makanan, hingga barang-barang pribadi orang tua seperti buku bisa kena sasaran. Kalau masalah satu ini malah orang tua yang jadi cemas. Namanya kuman dan bakteri kan bisa darimana saja, siapa tahu barang-barang tersebut penuh kontaminasi.

Tenang, dan ambil nafas. Sekarang bunda sudah tahu tantangan hadapi gigi tumbuh pada bayi, tinggal bagaimana cara mengatasinya yang harus ditemukan. Pada paragraf sebelumnya telah dijelaskan air liur bisa mengakibatkan sariawan dan ruam menyakitkan apabila dibiarkan ‘bertengger’ di sekitar mulut dalam waktu lama. Menimbang subjek masalah, tentu solusinya adalah tidak membiarkan air liur terlalu lama menetap.

Beberapa barang bayi sebetulnya dijual jauh dari fungsi aslinya. Lap makan bayi atau celemek bayi bisa dimanfaatkan sebagai wadah jatuhnya air liur. Selain itu, kain cenderung minim memicu alergi, daripada cari tisu aman untuk bayi susah, lebih baik bunda gunakan saja celemek si kecil untuk lap mulut. Praktis, ringkas, dan hemat.

Masalah teething sebetulnya terletak pada barang eksternal yang masuk dalam mulut padahal tidak diketahui asal muasalnya. Tingkatkan keamanan aktivitas teething dengan menyediakan media yang tepat. Jaman sekarang, mainan bayi berbahan dasar karet sudah banyak beredar di pasaran. Dengan adanya satu objek khusus untuk digigit, kontrol ayah bunda terhadap faktor higenis pada barang akan jauh lebih mudah.

Toleransi terhadap rasa sakit memang berbeda-beda bagi semua bayi. Beberapa tahan dengan cobaan tumbuh gigi, ada juga yang tidak. Orang tua tentu lebih paham sejauh mana kemampuan bayi menahan rasa sakit. Kalau memang bayi tergolong toleransi terhadap rasa sakit sedikit, otomatis bunda harus cari obat penahan rasa sakit.

Begitu banyak obat penahan rasa sakit beredar di pasaran, dan beberapa ditunjukkan untuk bayi. Sebelum memutuskan, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai tumbuh gigi pada bayi sebelum memutuskan.

Bila masa tumbuh gigi sudah terjadi, maka bunda perlu mengetahui cara menyusui bayi bergigi. Temukan caranya di Awal Sehat Nestle. Klik di sini.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a comment

Your email address will not be published.


*