Perkembangan Balita Justru Lebih Baik Jika Orang Tuanya Bekerja

perkembangan balita www.facebook.com/ibudanbalita

Perkembangan balita selalu dihubung-hubungkan dengan kehadiran orang tua, terutama ibu di setiap saat. Hal itu pula yang diamini oleh setidaknya sebagian besar masyarakat Indonesia, bahwa kehadiran ibu sangat penting untuk perkembangan sang buah hati, khususnya perkembangan psikologinya.

Namun, sebuah survey yang dilakukan di Inggris menyebutkan bahwa ternyata tidak ada pengaruh yang signifikan antara apakah seorang ibu yang merawat dan mengawasi balita setiap hari atau orang lain seperti babysitter. Lebih dari itu, dari survey yang sama, justru balita akan berkembang lebih baik jika orang tuanya bekerja. Artinya, balita tersebut diasuh oleh pengasuh atau babysitter sementara kedua orang tuanya bekerja di luar.

Mungkin ibu tidak percaya dengan survey tersebut di atas. Hal tersebut sangat wajar karena sampai saat ini banyak artikel yang ditulis oleh pakar psikologi anak menjelaskan bahwa perkembangan balita khususnya psikologinya sangat dipengaruhi oleh kehadiran ibu. Bahkan, ada juga yang menganggap menitipkan balita kepada babysitter merupakan langkah yang salah. Lebih ekstrim lagi, menitipkan kepada babysitter akan membuat balita lebih dekat dengan babysitter daripada dengan ibunya sendiri.

Jika ibu memiliki pendapat yang sama, pendapat tersebut mungkin tidak lama lagi akan luntur setelah membaca surve di Inggris berikut ini.

Menurut seorang peneliti dari University College London yang bernama Dr. Anne McMunn, dari 13.000 anak yang diteliti di mana anak tersebut tumbuh dari latara belakang pekerjaan orang tua yang berbeda, ternyata tidak adal hal yang tidak wajar mengenai perkembangannya mulai dari usia 3-5 tahun. 13.000 anak tersebut ditinggal kerja kedua orang tuanya dan tidak ada masalah dengan perkembangan balita.

Sementara itu, Dr. Anne menambahkan justru anak yang orang tuanya tidak memiiki pekerjaan, mereka justru rentan mengalami gangguan. Umumnya, anak laki-laki akan mendapatkan gangguan perilaku jika mengetahui ibunya tidak bekerja. Sementara itu, anak perempuan beresiko mengalami hiperaktif jika mengetahui ayahnya tidak bekerja.

Dari survey tersebut, setidaknya ada dua hal yang bisa disimpulkan. Yang pertama, tidak ada pengaruhnya antara orang tua yang bekerja di kantor dengan perkembangan balita. Tentunya dengan satu catatan. Ibu harus menitipkan sang buah hati kepada babysitter yang bisa ibu percaya. Atau alangkah lebih baik jika ibu menitipkan sang buah hati kepada nenek atau kakeknya. Kesimpulan yang kedua, justru anak akan mengalami gangguan jika melihat ayah atau ibunya hanya berada di rumah dan tidak bekerja.

Oleh karena itu, bagi ibu yang sekarang meninggalkan anaknya di rumah entah bersama babysitter atau kakek neneknya, ibu tidak perlu merasa bersalah. Bukan berarti hal tersebut mengurangi rasa sayang ibu kepada sang buah hati. Karena alasan ibu bekerja adalah untuk memberiakan dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik untuk anak ibu.

Bagi ibu yang gamang apakah tetap bekerja atau resign karena meninggalkan balita di rumah, sekarang ibu tidak perlu ragu lagi. Kalaupun akhirnya resign, hal tersebut bukan karena ketakutan ibu akan gangguan perkembangan psikologi balita ketika ibu tidak bisa setiap waktu menjaganya. Asalkan ibu menitipkan kepada orang yang ibu bisa percaya, maka perkembangan sang buah hati akan baik-baik saja.

Jadi, persepsi yang sudah terlanjur diterima oleh masyarakat sampai saat ini tidaklah 100% benar. Yang jelas, dengan menitipkan kepada orang yang benar, maka ibu bisa bekerja dengan tenang tanpa mengkhawatirkan perkembangan balita.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a comment

Your email address will not be published.


*