Perilaku Ibu Pengaruhi Psikologi Anak

Psikologi Anak huffingtonpost.ca

Mulai saat ini, ibu perlu mematikan handphone jika tidak ingin merusak psikologi anak. Ini peringatan yang keras bagi semua orang tua yang sering bermain handphone sendiri ketika bersama dengan sang buah hati. Bukannya mengajak si kecil bermain tapi orang tua asyik sendiri bermain media sosial atau chatting.

Dan ini hanya satu dari sekian hal sepele yang memberikan dampak kurang baik untuk psikologi anak. Itulah mengapa ibu perlu tahu apa saja perilaku yang ternyata bisa berdampak buruk bagi perkembangan psikologi anak, salah satu perilaku bermain handphone ketika bersama dengan anak.

Dampak Psikologi Anak Ketika Orang Tua Asyik Main Handphone

Tidak asing lagi jika orang tua sedang asyik chatting atau mengecek status media sosial sementara anaknya bermain sendirian. Hal yang semacam ini lumrah terjadi, tidak hanya di rumah, tapi juga ketika di restoran. Anak dibiarkan makan dan bermain sendiri di tempat bermain yang disediakan oleh pemilik restoran sementara orang tua asyik bermain handphone.

Namun, apakah ibu tahu ada dampak psikologi dari hal yang sepele tersebut? Menurut psikolog Dr. Gary Chapman dalam bukunya yang berjudul “Lima Bahasa Cinta”, anak memiliki tangki cinta psikologis. Tangki tersebut harus terus diisi. Dan siapa yang bisa mengisi? Tidak orang lain, tapi ibu selaku orang tua.

Tangki bisa diisi dengan cara memberikan perhatian kepada sang buah hati. Ibu harus meluangkan waktu untuk bermain bersama sang buah hati. Dengan cara ini, maka tangki cinta psikologis anak akan terisi penuh. Jika tangki sudah berhasil terisi dengan penuh, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki inner motivasi. Jadi, ia akan terlihat cerita, bersemangat, dan penuh percaya diri. Dengan demikian, perkembangannya pun akan menjadi lebih optimal.

Jadi, mulai sekarang, matikan handphone ibu ketika sedang bermain dengan anak.

Berbicara Keras

Coba ibu ingat lagi apakah ibu pernah berbicara keras ketika si kecil ada di depan ibu? Mungkin saja ibu sedang bertengkar dengan suami. Atau ibu sedang kesal dengan seseorang sehingga nada bicara ibu keras kepada anak. Apapun itu alasannya, berbicara keras akan berdampak kurang bagus untuk psikologi anak.

Sudah selayaknya ibu harus menjaga diri. Ibu harus mampu mengontrol emosi. Kalaupun ibu sedang bertengkar dengan suami, maka sebaiknya jangan sampai si kecil melihat. Jika ibu sedang marah dengan orang lain, jangan luapkan dengan mengeluarkan perkataan dengan nada yang keras kepada si kecil.

Ibu harus tahu anak sangat pintar dalam menirukan apa yang ia dengar dan apa yang ia lihat. Jangan sampai suatu saat nanti ibu menyesal ketika anak ibu tumbuh menjadi anak yang suka mengeluarkan perkataan dengan nada yang keras, apalagi perkataan kasar. Hal tersebut tidak boleh terjadi. Dan salah satu caranya adalah ibu harus mampu mengendalikan emosi. Apapun yang terjadi, ibu harus pastikan ibu bersikap lemah lembut dengan sang buah hati.

Tidak Memberikan Hukuman

Hukuman Pada Anak

drshefali.com

Bukannya memberikan hukuman itu tidak diperbolehkan? Betul sekali. Memberikan hukuman itu tidak diperbolehkan jika anak ibu masih sangat kecil. Menurut ilmu psikologi anak, balita harus diperlakukan layaknya raja. Ia tidak boleh dibentak dan diberi hukuman sekalipun ia melakukan hal yang salah. Ibu harus memberitahunya dengan lemah lembut.

Cara mengasuh agak sedikit berbeda jika usia si kecil sudah menginjak 6 tahun ke atas. Ibu harus mulai memberikan pelajaran apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jika anak melakukan apa yang tidak boleh dilakukan, maka ibu harus memberikan hukuman, tentu saja hukuman yang wajar.

Tidak memberikan hukuman ketika anak berbuat salah akan memberikan dampak psikologi anak yang kurang baik. Tidak memberikan hukuman berarti ibu membiarkan anak melakukan hal yang salah. Anak akan cenderung menganggap apa yang ia lakukan merupakan hal yang benar. Maka dikemudian hari nanti, bukan tidak mungkin anak akan melakukan hal yang sama lagi.

Sebaiknya ibu menyiapkan hukuman yang tepat jika anak melakukan kesalahan. Pertama-tama, ibu bisa menegurnya. Teguran akan menjadi peringatan bawasannya si kecil tidak boleh melakukan kesalahan yang sama lagi. Setidaknya, ini tindakan yang awal untuk memberikan sinyal kepada anak agar bawasannya yang ia lakukan itu salah. Hukuman yang kedua bisa berupa hukuman fisik tapi bukan kekerasan. Jika anak sudah dewasa, ibu bisa mengajak anak untuk berdiskusi kenapa ada hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Berbohong

Ibu pernah berbohong kepada anak? Sekalipun ibu bohong untuk kebaikan, sebaiknya ibu tidak lakukan. Yang dikhawatirkan adalah ketika anak ibu suatu saat nanti meniru. Ketika ia tahu jika ibu berbohong, maka anak akan cenderung meniru seperti apa yang ibu lakukan.

Akan lebih baik jika ibu mengatakan hal yang sebenarnya. Terkadang orang tua tidak ingin anak mereka bermain di luar dengan cara mengatakan bawasannya ada hantu di luar. Contoh kebohongan kecil ini sebaiknya tidak ibu lakukan. Menakut-nakuti dengan mengatakan ada hantu tentu akan sangat berpengaruh pada psikologi anak.

Tentunya masih banyak hal lain terkait dengan perilaku ibu yang bisa berdampak cukup signifikan bagi perkembangan psikologis anak. Ibu bisa pelajari lewat forum dan situs-situs online yang sudah banyak beredar tentang psikologi anak.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a comment

Your email address will not be published.


*