Pentingnya Memantau Berat Badan Ideal Ibu Hamil

berat badan ideal ibu hamil Source: Golden Gate OBGYN

Menjaga kesehatan selama mengandung tentu sudah menjadi kewajiban bagi ayah dan bunda. Pertumbuhan janin dan hasil persalinan nanti akan mencerminkan jerih payah keduanya. Salah satu faktor penentu kesehatan bunda adalah berat badan ideal ibu hamil.

Semua perempuan itu cantik, terlepas dari bentuk dan berat badan. Bukan bermaksud body shaming atau memperolok bentuk tubuh masing – masing individu, namun memang demikian fakta medis masa kini. Arti ideal dalam artikel ‘pentingnya memantau berat badan ideal ibu hamil’ ini tidak melulu bentuk dan berat badan model pakaian dalam terkenal atau gambaran semakin kurus semakin menawan.

Tubuh perempuan diciptakan yang maha kuasa dengan bentuk beragam, karenanya perempuan menarik lawan jenis dengan alasan yang berbeda pula, layaknya produk custom made. Selama perempuan tidak mencapai kadar obesitas, seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Indikator berat badan seperti body mass index atau biasa dikenal sebagai BMI diciptakan guna mencapai tujuan berat badan ideal bagi masing – masing individu.

Adolphe Quetet menciptakan BMI pada tahun delapan ribu tiga puluh di Belgia. Perhitungan body mass index berdasar rasio tinggi tubuh dan berat badan seseorang. Pencapaian persentase dari rasio body mass index menentukan apakah seseorang perlu menurunkan atau malah menaikkan berat badan. Ya, kedua belah pihak sama – sama tak diuntungkan jika nilai body mass index tidak mencapi standard.

Sejatinya, body mass index akan disajikan dalam bentuk persen, sehingga memudahkan cara membaca. Tentu saja, persenan tersebut sudah termasuk berat badan dan tinggi sesuai masing – masing perempuan. Delapan belas sampai dengan dua puluh empat persen masih dianggap kadar normal, harap camkan sebelum melihat angka besar dan menilai sembarangan kalau badan kegemukan.

Kenapa berat badan ideal ibu hamil cukup penting 

Tentu saja, kadar kesehatan tetap ditentukan dari asupan gizi dan vitamin, tapi obesitas bisa membuat semua usaha sia – sia belaka. Orang awam mungkin hanya mengenal obsitas sebagai bentuk berat badan berlebih dan sampai situ saja. Kalau dikaji lebih lanjut, obesitas tidak hanya berhenti di situ saja, melainkan ada beragam obesitas beserta dampak yang sama – sama bikin pusing kepala.

Diabetes kehamilan, misalnya. Perempuan yang obesitas duluan sebelum mengandung punya kemungkinan kena diabetes di kala hamil. Kala mengandung, insulin tubuh tidak mampu bekerja dengan baik, maka dari itu gula darah gampang sekali meningkat dan berujung pada diabetes. Kalau seandainya bunda memang ada keturunan diabetes, akan makin memperparah keadaan.

Selain diabetes kehamilan, ada lagi jenis penyakit hanya karena kelebihan berat badan yakni preeclampsia. Berbeda dengan diabetes yang langsung berkaitan dengan kelebihan berat badan, serta terasa betul gejalanya, preeclampsia berpengaruh pada tekanan darah dan tidak terasa. Kebanyakan penderita preeclampsia justru merasa baik – baik saja, hingga suatu ketika ambruk layaknya bom waktu. Berbahaya memang, dan membutuhkan waktu hingga dua puluh minggu baru terasa efek preeclampsia.

Obesitas membuat nafas lebih berat. Hanya ada dua tipe orang yang terenggah – enggah sepanjang hari terlepas dari habis olah raga atau tidak, yakni perokok dan kegendutan. 2 tipe orang ini akan kesulitan bernafas pada satu titik dan bahkan tidak sama sekali. Penderita sleep apnea merasa kesulitan bahkan tidak memperoleh oksigen di kala tidur sehingga bisa jadi berakibat cukup fatal.

Merasa kurang seram? Bagaimana dengan dampak obesitas pada janin?

Jaman dahulu kala, perempuan justru dipaksa makan banyak supaya badan membesar. Semakin timbangan meningkat berarti semakin sejahtera perempuan tersebut. Pemahaman satu ini memang sedikit aneh dan salah besar. Tingkat kegagalan hingga merenggut jiwa disebabkan oleh tradisi penggemukkan badan itu sendiri.

Dunia modern mulai beradaptapsi dengan fakta dibanding firasat. Penelitian demi penelitian dilakukan guna menemukan korelasi antar obesitas dan janin. Hasilnya cukup memprihatinkan. Tidak hanya obesitas bisa menyebabkan keguguran, namun obesitas juga memicu cacat pada bayi, suatu hal yang pasti tidak diinginkan siapa saja.

Berat badan bayi kelak biasa menjadi alasan utama bagi bunda untuk tetap makan sembarangan. Ya, memang takaran kesehatan bayi diukur dari berat badan, tapi segala sesuatu yang berlebih pasti tidak menguntungkan. Bunda obesitas cenderung melahirkan bayi yang kegendutan pula, sehingga membahayakan persalinan. Dalam banyak kasus anggota tubuh bayi tersangkut di dalam atau mengalami kelainan pembesaran.

Selain persalinan tidak lancar, serta bayi membesar, ada satu lagi dampak obesitas yang bikin merinding. Perempuan yang kelebihan berat badan cenderung mengalami kelahiran dini alias premature, dan kalaupun sampai 9 bulan, cesar siap menanti. Ngeri memang, dan tidak dapat dipungkiri lagi bahaya dari obesitas terhadap janin.

Pada paragraph sebelumnya telah dibahas mengenai body mass index dimana delapan belas sampai dua puluh empat adalah batas normal. Batas tidak normal untuk dikatakan obesitas terletak pada tiga puluh persen. body mass index perempuan kekurangan badan adalah mereka yang memiliki rasio dibawah delapan belas persen. Manapun itu, ada standard yang harus dicapai.

Apakah berat badan ibu hamil bisa diatasi?

Seperti halnya semua masalah dan ujian di hidup ini, manusia diberi pilihan untuk berusaha atau menyerah. Berat badan juga demikian, selalu ada jalan untuk mengatasi masalah. Dengan bantuan dokter dan ilmu pengetahuan jaman sekarang, berat badan ideal ibu hamil bukan lagi mustahil.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a comment

Your email address will not be published.


*