Mendidik Anak Usia 4 Tahun Tak Bakat Bicara Supaya Lancar Komunikasi

mendidik anak usia 4 tahun www.ibudanbalita.com

Sebagian besar orang tua pasti berharap anaknya bakal sukses di masa depan. Bicara mengenai sukses, tentu harus ada 3 kunci yang dikuasai yakni kepintaran akademis, cerdik taktik, dan terakhir koneksi. Namanya sukses bukan jatuh dari langit, melainkan hasil usaha orang tua sejak dini. Maka dari itu, mendidik anak usia 4 tahun akan sangat menentukan masa depan seseorang.

Manusia sudah ditetapkan sebagai mahluk sosial. Filosofis Aristotle menekankan bahwa manusia tidak akan mampu hidup tanpa orang lain, hanya sedikit orang yang mampu selamat di dunia ini tanpa perlu bersosialisasi. Sayangnya, dalam sosialisasi terdapat norma dan tata krama yang tidak dapat disingkirkan begitu saja, walau berbeda latar belakang sekalipun.

Orang tua sudah seharusnya sadar diri bila apapun yang anak lakukan adalah hasil keputusan yang dibuat ayah bunda. Usia memasuki dunia luar untuk pertama kalinya biasa terjadi usai ulang tahun keempat, karenanya mengajari komunikasi pada anak 4 tahun bukan sekedar formalitas. Tentu saja, ayah bunda harus mengerti cara paling tepat mengajari buah hati sosialisasi.

Kala manusia menginjak dewasa, secara otomatis otak akan berkembang dengan cepat. Rasa bangga akan tanggung jawab yang diberikan membuat orang dewasa buta akan kemampuan anak. Ya, memang secara emosi anak belum stabil tapi bukan berarti anak bodoh. Otak anak usia 4 tahun justru sedang dalam tahap ngebut kalau masalah komunikasi. Terlalu tinggi menetapkan standard hanya membuat tekanan namun terlalu rendah juga menghambat perkembangan.

Layaknya sekolah pada umumnya, semua punya standard. Sebetulnya standard atau kadar minimum diciptakan bukan untuk memberi tekanan atau menempelkan label ‘bodoh’ dan ‘pintar’, melainkan menggolongkan anak dalam beberapa kotak dengan kemampuan yang sama. Orang tua juga harus mulai belajar bagaimana berekspektasi seputar perkembangan anak. Jangan sampai, harapan melambung tinggi, padahal anak belum siap memenuhi harapan tersebut.

Menarik garis besar, umur 4 tahun seorang anak harusnya sudah mampu bicara banyak kalimat. Walaupun, anak belum bisa disuruh pidato selama 1 jam, setidaknya kalau sekedar menceritakan ulang suatu kisah dalam beberapa bait sudah pasti bisa. Sayangnya, beberapa anak tidak punya kemampuan yang sama. Penelitian menunjukkan memang ada beberapa anak tidak beruntung yang mengalami keterlambatan komunikasi.

Paham mengenai makna keterlambatan komunikasi tentu memudahkan orang tua dalam memahami anak. Memang ada penyakit down syndrome yang juga berdampak pada komunikasi, akan tetapi tidak selalu demikian. Beberapa anak memang tidak diberkahi bakat komunikasi, sehingga bicara bukan keahlian utama yang mampu berkembang.

Anak dengan kemampuan komunikasi lebih rendah cenderung tidak peduli dengan sekeliling. Anak menunjukkan ketertarikan minim terhadap sekitar bahkan pada orang tua sekalipun. Kepedulian anak seolah berfokus pada mainan di depannya dan pembicaraan orang di sekitar bukan salah satu minatnya. Hanya karena kemampuan komunikasi anak berkembang jauh lebih lambat bukan berarti orang tua tidak bisa melakukan apapun.

Buah tidak akan jatuh dari pohonnya, sifat anak tidak akan jauh dari orang tua. Kalau ayah bunda termasuk golongan pendiam, dan cuek bisa jadi anak akan bersikap sama. Orang tua bisa saja merasa khawatir setelah disinggung oleh tetangga atau teman mengenai betapa ‘terisolasi’ sikap anak, tanpa menyadari bahwa anak hanya meniru kedua orang tuanya.

Jangan khawatir, walaupun anak meniru sikap pendiam tidak selalu menandakan anak tidak sayang orang tua. Tak jarang anak yang pendiam justru bereaksi atau memulai perbincangan pada saat – saat diperlukan. Sebagai contoh, anak mungkin asyik bermain, tapi ketika jatuh dan berdarah, anak secara naluri berbicara dengan orang tua meski hanya berupa jeritan atau tangisan tidak jelas.

Tamu orang tua mungkin merasa sedikit keberatan dengan sikap anak. Sebagai warga Asia yang cukup mengedepankan sosial, sikap terbuka terhadap tamu sangatlah penting. Memang, tingkah laku anak dan ayah bunda urusan pribadi, namun alangkah baiknya jika tetap ada rasa ramah tamah terlihat ketika orang eksternal datang.

Anak umur 4 tahun senang meniru orang yang dipercaya. Biasakan selalu memberi waktu menyapa si kecil walau mungkin di awal anak tidak terlalu menanggapi. Misalkan saja, sebelum ayah pergi bekerja, buah hati diajak menyalami dan mencium tangan, begitu pula ketika ayah pulang, baik bunda maupun anak menyempatkan diri untuk menyambut. Tidak perlu tindakan besar yang penting konsisten saja.

Otak anak secara otomatis bekerja dengan merekam segala hal yang dilihat. Kalau ayah bunda terus melakukan waktu salaman tersebut, besar kemungkinan anak akan terus mengikuti. Tanpa disuruh sekalipun, anak secara alami akan menyalami dan menyambut serta lebih sadar sekeliling dibanding sebelumnya.

Sama hal dengan pembelajaran lain selalu ada tingkat baru yang dikejar. Kalau anak memang sudah terbiasa dengan hal baik dan kecil seperti menyalami, ini saatnya mencari batu loncatan berbeda yakni kosa kata. Ya, sangat sayang bila anak tidak diberikan beragam kosa kata di usia belia. Padahal, pemikiran anak yang masih kosong bisa jadi kunci keberhasilan tata bahasa.

Waktu menjelang tidur adalah saat tepat untuk komunikasi dua arah. Sediakan buku dongeng, dan kasih sayang bunda. Bacakan saja dongeng apapun yang ada di rumah dan lihat reaksi anak. Seharusnya, dengan terus membacakan dongeng, mendidik anak usia 4 tahun bukan lagi pekerjaan sulit, karena anak sudah tahu bentuk susunan kalimat.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a comment

Your email address will not be published.


*