Kenali 4 Sebab Utama Anak Susah BAB

penyebab bayi sembelit mybaby.co.id

Anak susah BAB menjadi topik hangat di kalangan orang tua. Paling tidak satu dari sepuluh anak bisa jadi menghadapi masalah pembuangan kotoran tubuh. Keresahan orang tua kian menjadi tatkakala melihat anak gemetar sampai menangis karena rasa sakit dari kotoran yang keras. Pertanyaan seputar mengapa hal tidak menyenangkan menimpa si kecil berkelebat dalam kepala.

Jaman modern, ilmu pengetahuan sudah semakin maju, tidaklah susah lakukan diagnosa singkat seputar kemungkinan penyebab anak susah buang air besar. Setidaknya ada 4 penyebab utama yaitu:

  1. Rasa trauma
    Anak bagaikan kertas putih, bersih, polos, tak bernoda. Otak anak belum mampu menyaring mana yang benar dan mana yang salah. Apapun yang masuk telinga dan nampak di mata seolah informasi valid yang tak terbantahkan. Kalau tidak ada bimbingan orang tua yang tepat, maka bisa jadi masalah dalam jangka panjang.

    Lucu tapi nyata, banyak sekali anak-anak yang tidak menyadari sebagian besar tontonan di televisi hanyalah imajinasi penulis naskah saja. Rasa takut, sedih, senang, sampai dengan kepercayaan yang dianut cenderung dipengaruhi oleh media. Siapa sangka, bahwa tontonan yang salah bisa menimbulkan kesulitan buang air besar?

    Adegan kartun menampilkan adegan berupa monster yang berhasil dikalahkan tokoh protagonis rasanya sudah biasa. Sayangnya tidak semua anak menangkap esensi cerita, atau menonton serial secara menyeluruh. Akibatnya, hikmah yang diterima melenceng cukup jauh dari apa yang ingin disampaikan.

    Contoh saja, ada kasus dimana anak berumur tiga tahun tidak berani ke kamar mandi lantaran usai menonton adegen monster di kamar mandi. Menurut jurnal kesehatan, anak tersebut lantas menahan diri sehingga timbulkan kebiasaan buruk dalam siklus buang air besar. Orang tua tentu saja tidak sadar hingga masalah sudah capai tahap kronis.

  2. Susu yang salah
    Minum susu adalah kewajiban setiap anak. Kebutuhan akan vitamin D dan kalsium memaksa anak untuk terus konsumsi produk asal sapi ini setiap harinya. Kendati demikian, tidak semua anak cukup beruntung untuk peroleh nutrisi dalam susu sapi sebagaimana mestinya.

    Penelitian berjudul The New England Journal of Medicineyang berarti jurnal kesehatan terbaru Inggris mencatatkan detil mengenai hubungan antar susu sapi dengan kesulitan buang air besar. Sekitar tujuh puluh persen kemungkinan buang air besar berhubungan erat dengan kelainan terhadap susu yang tidak disadari.  Ya, alergi susu memang sesuatu yang nyata namun jarang sekali dibicarakan.

    Tidak banyak orang menyadari bahwa buah hatinya tidak mampu mencerna susu dengan baik sampai kondisi sudah cukup parah. Ada baiknya orang tua selalu konsultasi dengan dokter apabila sejak kecil, anak alami muntah, mual, dan gejala tidak normal lainnya usai konsumsi susu. Siapa tahu, disinilah pakar masalahnya.

    Mitos yang beredar, bahwa kurangnya kandungan zat besi dalam susu menyebabkan pengolahan susu yang keliru dalam tubuh. Sebetulnya, hal tersebut belum pernah terbukti secara ilmiah. Bahkan, beberapa ahli kesehatan justu menyarankan pemberian air susu ibu yang rendah zat besi.

  3. Menahan buang air besar
    Layaknya kotoran pada piring yang dibiarkan terlalu lama, sesuatu yang tertunda akan mengeras. Akan dibutuhkan usaha ekstra untuk membersihkan kotoran yang telanjur menempel semalaman tanpa terkena air bukan? Hal yang sama terjadi pada sistem pembuangan tubuh manusia.

    Anak mungkin saja menanam kebiasaan menahan buang air besar berdasarkan pengalaman pribadi. Orang tua yang sering mengatakan ‘tahan sedikit, sebentar lagi sampai’ atau ‘tunggu mama (atau ayah) lagi bicara di telfon’ bisa tumbuhkan kebiasaan buruk menahan kotoran. Padahal, penyebab paling umum anak sulit buang air besar adalah menahan momen ingin menjawab panggilan alam itu sendiri.

    Sebelum orang tua garuk-garuk kepala kebingungan mari memahami konsep pencernaan itu sendiri.

    Ketika pencernaan usai membuang elemen tak diperlukan dan berubah jadi kotoran, terdapat ruang tunggu sebelum keluar melalui lubang anus. Colon, merupakan nama ruang tunggu kotoran tubuh manusia, sekaligus penyerap air dalam kotoran sehingga tekstur saat keluar lebih pas (tidak terlalu lembek). Sayangnya, ketika ditahan, maka penyerapan air semakin lama sehingga berakibat kotoran mengeras.

    Tubuh berusaha tetap hidup berbasis kebiasaan. Apabila anak mengenal kebiasaan ‘menahan kotoran di ruang tunggu’, maka lambat laun tubuh berhenti memberikan sinyal. Bisa jadi, anak malah tidak lagi sadar bahwa dirinya perlu ke belakang. Hingga tentunya, masalah kian sulit diatasi.

  4. Kurang serat
    ‘Coba anaknya disuruh makan pepaya’
    Satu tips yang kerap terlontar dari mulut banyak orang tua. Sebetulnya bukan pepaya yang ajaib sehingga mampu sembuhkan masalah buang air besar pada anak. Kandungan serat dalam buah semacam pepaya merupakan inti penyelesaian masalah susah buang air.

    Dokter Dinesh Panshankar, ahli gastroenterologist menekankan betul pentingnya serat dalam menu makan anak sehari-hari. Menurut ahli dari jurusan kedokteran Yale tersebut, asupan serat dapat membantu lancarkan sesi buang air besar yang tidak terlalu berat. Sayur, buah, kacang-kacangan merupakan jenis makanan kaya serat dengan tingkat aman tinggi untuk anak.

    Perlu ditekankan bahwa serat hanya membantu melancarkan sesi buang air besar untuk kondisi tidak parah. Dalam artian, tidak ada kelainan sejak lahir, atau kotoran menumpuk di ‘ruang tunggu’. Saat tubuh anak terkontaminasi dengan penyakit pencernaan, serat mungkin membantu, namun bukan solusi anak susah bab permanen jika tak ada bantuan dari ahli kesehatan.(HN)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a comment

Your email address will not be published.


*