Isu Pertumbuhan Balita Di Daerah Terpencil

tips anak sehat www.friso.co.id

Ibu pasti senang jika pertumbuhan balita bagus. Indikatornya jelas. Si kecil memiliki berat badan dan tinggi badan yang ideal. Jika ibu memberikan makanan yang sehat serta selalu memastikan anak mengkonsumsi susu setiap hari, sudah bisa dipastikan balita tumbuh lebih optimal.

Sayangnya, hal seperti ini sulit dilakukan oleh para orang tua yang tinggal di daerah terpencil. Pemerintah bisa saja sudah memberikan perhatian yang lebih khusus kepada mereka yang tinggal di daerah yang terpencil. Sarana kesehatan diperbanyak, program pemberian makanan bergizi untuk anak balita, serta program lainnya sudah dilakukan. Namun, menurut riset kesehatan, angka balita dengan gizi buruk di daerah terpencil masih cukup tinggi.

Permasalahan Balita Dengan Gizi Buruk

Tentu ini bukan masalah yang sepele. Tumbuh kembang balita harus dipastikan baik karena mereka generasi penerus bangsa. Dan perkembangan anak balita tersebut sangat menentukan masa depannya nanti. Hal inilah yang menjadikan instansi kesehatan sangat serius menangani masalah gizi buruk pada balita.

Banyak hal yang menjadi penyebab gizi buruk ini. Salah satunya kurangnya nutrisi. Ini bukan berarti ada orang tua yang tidak mampu memberikan makanan yang bergizi. Kebanyakan dari mereka tidak sadar bagaimana memilihkan makanan yang bergizi. Mereka hanya berpikir asalkan anak mau makan dan kenyang. Mereka tidak sadar berapa kandungan vitamin, protein, dan nutrisi lainnya.

Bahkan, banyak orang tua yang asal membuatkan makanan. Yang penting, anak sudah mengkonsumsi nasi. Padahal, nutrisi yang paling dibutuhkan tidak berasal dari nasi. Nasi hanya memberikan karbohidrat saja. Sementara itu, anak balita membutuhkan protein dari daging, vitamin dari buah-buahan, dan serat dari sayur-sayuran.

Selain kesadaran yang rendah tentang pemberian makanan yang bergizi, ada juga faktor dari luar. Dari survey yang dilakukan, perkembangan anak balita yang kurang optimal terjadi di daerah yang sering terjadi bencana alam, seperti kebakaran hutan. ISPA atau infeksi saluran pernapasan atas menyebabkan perkembangan anak kurang bagus. Dan daerah yang sering mengalami kebakaran hutan membuat tumbuh kembang anak yang tinggal di daerah sekitar terganggu.

Ini sangat berbahaya sekali terutama ketika balita yang tinggal di daerah yang hampir setiap musim kemarau hutannya mengalami kebakaran. Dan ini menjadi tugas besar yang tidak hanya berada di pundak pemerintah apalagi dinas kesehatan saja. Semua instansi dan bahkan semua orang harus terlibat.

ISPA ini ternyata tidak hanya menjadi penyebab terganggunya pertumbuhan balita di daerah-daerah saja. Di perkotaan pun ada. Ini lebih disebabkan oleh asap kendaraan, bukan kebakaran hutan. Selain itu, asap dari pabrik juga bisa menjadi penyebab lainnya.

Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah ISPA karena asap rokok. Seperti yang ibu lihat sendiri, banyak perokok yang tidak menyadari hal ini. Mereka seolah tidak merasa bersalah ketika mereka merokok di depan anak-anak. Ini tidak hanya menjadi contoh yang buruk bagi anak-anak, tapi juga bisa mengganggu perkembangan anak.

Jadi, berbagai macam faktor penyebab yang bisa mengakibatkan anak mengalami perkembangan yang lambat. Bukan hanya faktor gizi saja, kan?

Permasalahan Double Burden

Mungkin ibu merasa asing dengan istilah double burden. Ini istilah kedokteran yang sering digunakan untuk menjelaskan anak balita yang mengalami kelebihan gizi. Jadi, masalah pada balita itu tidak hanya kekurangan gizi saja, tapi juga sebaliknya kelebihan gizi.

Isu yang satu ini juga tak kalah menarik untuk ibu perhatikan. Double burden ini ditunjukkan dengan kondisi berat badan balita yang di atas angka normal atau yang sering disebut dengan obesitas.

Anak-anak yang tinggal di daerah perkotaan yang sering mengalami hal ini. Mereka disuguhi dengan makanan yang bergizi namun hal tersebut tidak diimbangi dengan melakukan aktivitas. Mereka lebih banyak berada di rumah, pasif, dan hanya bermain gadget saja. Inilah kehidupan di perkotaan.

Hal ini diperburuk dengan kebiasaan orang tua yang sering mengajak anak makan makanan fast food. Kandungan lemak yang tinggi di dalam makanan tersebut membuat anak balita lebih berisiko mengalami obesitas.

Isu seperti ini juga sekarang sudah sampai ke area pedesaan. Kini, anak desa tidak lagi asing dengan game online di gadget. Mereka sudah tidak lagi tertarik dengan permainan fisik khas pedesaan. Maka obesitas juga menjadi masalah yang menyebabkan perkembangan balita di pedesaan terganggu.

Solusinya ada pada orang tua. Ibu harus menjadi orang tua yang bijak, tidak hanya bijak dalam memilihkan makanan yang sehat tapi juga memilihkan kegiataan yang bagus untuk sang buah hati. Panduannya banyak sekali. Ibu bisa mendapatkan panduan tentang parenting di www.friso.co.id. Ibu juga bisa langsung bertanya atau berkonsultasi dengan pakar psikologi anak atau dokter anak di situs tersebut.

Yang harus disadari secara kolektif adalah tentang pentingnya mengkonsumsi susu. Susu itu bukan hanya minuman untuk anak kecil saja. Anak balita pun harus minum susu hingga dewasa nanti. Hanya saja, untuk anak balita usia 1-3 tahun, mereka harus mengkonsumsi susu Friso Gold 3. Sementara itu, untuk anak usia 3 – 12 tahun harus mengkonsumsi susu Friso Gold 4. Kebiasaan minum susu setiap hari ini harus diajarkan mulai dari kecil hingga anak dewasa.

Selain itu, ibu juga harus belajar tentang parenting. Ini ilmu tentang bagaimana mendidik dan membesarkan anak dengan baik. Jika nutrisi itu menstimulasi dari dalam, maka parenting adalah stimulan dari luar untuk memaksimalkan perkembangan balita.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a comment

Your email address will not be published.


*