Beberapa Perkembangan Emosi Anak Yang Wajib Orang Tua Tahu

perkembangan emosi anak www.ibudanbalita.com

Setiap orang tua harus paham terkait dengan perkembangan emosi anak. Masa anak ini merupakan suatu masa dimana anak sedang menggali potensi pada dirinya dalam rangka untuk mencapai kematangan pada saat dewasa nanti.

Pada dasarnya perkembangan intelektual atau kontitif serta perkembangan emosional atau afektif pada anak dan juga remaja sebagian besar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berupa faktor personal ataupun juga faktor sosio kultural.

Tahapan perkembangan emosi pada anak ini memiliki ciri tertentu, akan tetapi yang jelas pada masa anak inilah perkembangan emosi anak itu sangat dipengaruhi. Untuk itulah jika ingin membentuk karakter anak, harus dimulai dari masa kanak-kanaknya.

Perkembangan Emosi Anak Usia 0-2 Tahun

Awal dari tahapan perkembangan emosi dari anak ini dimulai saat ia baru lahir. Pada usia ini, umumnya Anda bisa merangsang anak untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan mereka sehingga bisa membuat anak tumbuh menjadi individu yang penuh dengan percaya diri.

Akan tetapi jika ternyata anak ini mengalami kepercayaan diri yang kurang, umumnya di dalam dirinya akan timbul perasaan penuh curiga. Sebab anak usia ini belum bisa mengendalikan emosi dengan benar, maka dari itu si kecil akan cenderung berbuat sesuka hatinya.

Perkembangan emosi bayi, pada fase ini bayi akan membutuhkan belajar banyak hal dan juga mengetahui lingkungannya dengan familier. Untuk itulah perlakukan yang tepat pada fase ini akan memberikan peran penting dalam membentuk rasa percaya dirinya.

Kemudian saat bayi berusia 3-4 minggu, Umumnya bayi akan mulai menunjukkan senyuman saat merasa nyaman berada di lingkungannya. Selanjutnya pada minggu ke 8, bayi akan selalu tersenyum pada orang-orang yang ada di sekitanrnya. Pada bulan ke 4 sampai ke 8, si kecil sudah mulai belajar mengekspresikan emosinya, seperti gembira, marah, hingga takut.

Selanjutnya ketika si kecil berusia 12-15 bulan, umumnya si kecil akan merasakan ketergantungan yang semakin besar terhadap orang-orang yang selama ini sudah merawatnya.

Untuk itulah umumnya si kecil akan merasa tidak nyaman jika ada orang asing yang menghampirinya. Setelah itu pada saat berusia 2 tahun, bayi mulai dapat meniru reaksi emosi yang diperlihatkan oleh orang-orang yang ada di sekitanrnya.

Perkembangan Emosi Anak Usia 2-3 Tahun

Perkembangan emosi balita usia 2-3 tahun ditandai dengan mulai mampu menguasai kegiatan-kegiatan yang bisa melemaskan dan meregangkan otot-ototnya, sehingga anak sudah bisa menguasia anggota tubuhnya. Pada usia inilah lingkungan sangat berpengaruh besar dalam memupuk kepercayaan diri pada anak.

Pada usia ini, si kecil sudah mulai mencari-cari aturan-aturan sekaligus batasan-batasan yang ada di dalam lingkungannya. Anak akan mulai melihat akibat dari prilaku yang dibuatnya. Anak sudah mulai bisa membedakan mana hal yang benar dan mana hal yang salah.

Meskipun pada usia ini si kecil belum bisa mengunakan kata-kata sebagai bentuk dari ekspresi emosinya, tapi si kecil akan menggunakan ekspresi wajah ketika ingin memperlihatkan emosi dan perasaannya.

Maka dari itu, peran orang tua akan sangat membantu si kecil supaya bisa mengekspresikan emosinya dengan bahasa verbal. Tugas Anda sebagai orang tua hanya perlu menerjemahkan mimik serta ekspresi wajah si kecil dengan menggunakan bahasa verbal.

Perkembangan Emosi Anak Usia 4-5 Tahun

Perkembangan emosi pada balita usia ini dimana fase Initiative vs Guilt muncul pada anak. Si kecil akan mulai menunjukkan rasa ingin lepas dari ikatan orang tuanya. Anak ingin bisa bergerak dengan bebas serta berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Keinginan anak yang ingin lepas dari orang tua ini yang membuat munculnya rasa inisiatif pada diri anak, namun sekaligus juga akan menimbulkan rasa bersalah.

Pada usia ini juga disebut fase masa bermain untuk anak-anak. Tentu saja pada fase ini juga anak sudah memiliki naluri untuk berinisiatif melakukan suatu hal. Kondisi seperti inilah yang nantinya akan membuat anak belajar arti ditanggapi dengan baik dan juga diabaikan (diterima dan ditolak).

Untuk itulah jika nanti anak mendapatkan sambutan baik, maka anak akan dapat belajar beberapa hal, diantaranya adalah:

  1. Anak akan mampu untuk berimajinasi serta dapat mengembangkan ketrampilan diri melalui aktif dalam bermain.
  2. Anak dapat bekerja sama dengan temannya.
  3. Anak memiliki kemampuan menjadi pemimpin dalam permainan.

Akan tetapi jika inisiatif si kecil ini mengalami penolakan, maka kondisi seperti ini akan membuat akan merasa takut sehingga akan selalu tergantung pada kelompok serta tidak berani untuk mengeluarkan pendapatnya.

Cara Mudah Memantau Perkembangan Emosi Anak

Menantau perkembangan emosi anak-anak ini dimaksudkan untuk memahami tingkat kematangan dari afektif anak. Para orang tua bisa mengacu pada enam tahapan perkembangan afektif yang memang umumnya akan dilalui oleh setiap anak yang normal.

Diantaranya meliputi kemampuan emosional, sosial, kognitif, ketrampilan, bahasa, dan konsep dirinya di masa depan. Namun harus diingat juga bahwa tahapan-tahapan tersebut akan berlangsung secara berkesinambungan.

Biasanya gangguan perkembangan tidak akan terjadi manakala anak sudah berada dalam pengasuhan yang hangat. Keenam tahapan ini umumnya akan berakhir secara normal ketika anak sudah berusia 4-5 tahun.

Namun sebenarnya jika dibandingkan dengan bagaimana kualitas pencapaian waktu atau pada umur berapa tercapainya tidaklah begitu penting. Sebab tugas orang tua adalah untuk mengenali kemampuan emosi apa saja yang sudah dimiliki oleh anak dan mana yang belum dan membutuhkan penguatan.

Jadi kesimpulannya, cara mengamati perkembangan emosi dari anak adalah dengan cara memperhatikan anak pada saat berinteraksi, bermain, dan beraktivitas kemudian Anda memperkirakan tahapan mana yang sudah dilalui karena tahapan perkembangan emosi anak ini berkesinambungan.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a comment

Your email address will not be published.


*