3 Mitos Makanan Pendamping ASI Yang Bisa Jadi Anda Percaya

makanan pendamping asi www.todaysparent.com

Fenomena bayi terus menangis walau sudah menyediakan waktu dua kali lipat hanya demi menyusui. Rasa tidak puas dengan air susu ibu memang wajar sekali dialami bayi 6 bulan, tidak heran makanan pendamping asi diciptakan. Beberapa bunda mungkin pernah mendengar atau malah tidak tahu menahu seputar mpasi.

Makanan pendamping asi banyak dikenal pula sebagai mpasi, apa itu? Badan bayi 6 bulan tentu sudah lebih besar, membuat ruang perut semakin luas. Ibarat ruangan kamar yang diperbesar, butuh barang – barang baru sebelum kamar terkesan berisi, demikian pula bayi. Air susu ibu tidak lagi mengenyangkan si kecil, sehingga perkenalan makanan baru diperlukan guna kesehatan buah hati. Transisi dari menyusui ke makanan padat inilah yang disebut makanan pendamping.

Beberapa orang berpegang teguh pada waktu menyusui. Mayoritas pengguna asi ekslusif (pemberian air susu bunda pada bayi selama kurun waktu tertentu tanpa menambahkan unsur lain) dapat berhenti di usia 6 bulan atau bahkan lebih. Maksimum pemberian air susu ibunda adalah usia 2 tahun, sehingga bisa jadi perkenalan mpasi justru dimulai lebih lambat lagi. Pilihan bunda dan ayah tentu sudah melalui pertimbangan masak, tidak perlu namanya minder dan ikut – ikutan.

Manusia secara psikologis bergerak sesuai dengan pengetahuan berbasis pengalaman, dan latar belakang individualis. Lucunya, terkadang sesuatu yang fana terkesan nyata bila sesuatu ditanamkan menjadi kepercayaan. Budaya Indonesia yang menjunjung tinggi harkat dan status membuat mitos cukup terkenal di antara penghuninya. Tak terkecuali, mitos makanan pendamping yang turun menurun dijadikan acuan.

Pengetahuan yang secuil tentu menghindarkan manusia dari kesalahan akan kepercayaan terhadap sesuatu, bahkan terkadang keyakinan itu sendiri bisa menepis fakta yang ada. Ada baiknya, mitos tetap diteliti lebih lanjut agar tidak terus – terusan ‘berjalan’ lebih gelap. Beberapa mitos yang terbantah dibawah ini akan diwakili dokter dan peneliti dengan kredibilitas yang bisa bunda ayah gali lebih dalam di luar artikel.

1. Mitos “kalau bayi sudah ambil makanan berarti siap diberi makanan pendamping”

Dokter Catherine Pound, ahli gizi di Children’s Hospital, Eastern Ontario, daerah Ottawa menyatakan mitos ini ada benarnya tapi tidak 100 persen. Bayi pada dasarnya senang meniru kegiatan orang dewasa yang dipercaya. Kala ayah bunda meraih makanan apapun, dan disaksikan bayi, paham atau tidak buah hati akan ikut – ikutan. Rasa tertarik dengan sekedar followers dua hal yang berbeda.

Bayi tidak tahu apa itu makanan pendamping asi, yang ada di benak si kecil, ayah dan bunda meraih suatu barang asing dan aku mau coba ikut ambil. Kalau bunda tidak menyadari perubahan perilaku saat menyusui, dan bayi belum mampu duduk maka belum tentu makanan pendamping harus diperkenalkan. Duduk dalam artian bayi mampu menopang kepala dan punggung secara mandiri tanpa bantuan orang dewasa.

2. Pokoknya mpasi pertama harus pakai ‘bahan ini’

Saking berhasilnya prestasi seseorang, tumbuh keyakinan bahwa semua bayi harus mengikuti pola pemberian makanan. Salah. Kembali lagi, dokter Catherine Pound membantah mitos yang menurutnya kurang masuk akal. Selain transisi makanan padat, sebetulnya tujuan pemberian makanan pendamping air susu bunda adalah melatih otot gerak dan menaikkan tingkat pemberian zat besi.

Melimpahnya kekayaan alam tanah air Indonesia tentu pencarian sumber zat besi sangat murah. Terlebih lagi, tradisi sembelih menyembelih hewan untuk dibagikan seolah ada pada setiap suku, daging merah tidak akan bikin pusing untuk diperoleh. Konsultan diet Sarah Remmer, tidak berfokus pada satu makanan melainkan rekomendasi sumber zat besi dari bermacam bahan seperti ikan, telur, dan kacang – kacangan.


Bisnis bubur bayi cukup beken, bunda dan ayah bisa langsung menyaksikan deretan produk bubur bayi beragam rasa, merek, slogan, dan harga. Secara keseluruhan tidak ada masalah memakai bubur bayi sebagai makanan pendamping selama di bagian label kandungan terpampang zat besi. Lagipula, ingatlah kembali tujuan pemberian makanan pendamping air susu ibu oleh ayah bunda.

3. Rasanya jangan kenceng nanti bayi tidak mau

Manusia secara naluriah waspada terhadap hal baru dalam hidupnya, begitu pula si kecil. Selama berbulan – bulan hanya susu ibu yang dikenal oleh bayi guna bertahan hidup. Ketika bunda menarik sesi menyusui, timbul ketakutan dalam diri bayi, apakah dirinya siap dengan makanan di depannya ?


Beberapa bunda menganggap bayi tidak mau makan karena cita rasa bubur terlalu kuat malah bikin eneg, padahal bukan demikian. Sarah Remmer menyatakan, rasa dan juga tekstur sangat penting bagi perkembangan bayi ke depan. Kalau tidak ada pengenalan rasa sejak dini, ketika bertumbuh besar, bayi akan takut untuk mencoba berbagai jenis makanan dan berujung orang tua jadi susah mau berganti menu.

Pergantian menu dan rasa akan sangat baik untuk asupan gizi namun juga perkembangan indera perasa bayi ke depan, kendati demikian ada tata caranya. Memaksa bayi makan suatu bahan tertentu dengan pergantian drastis bisa menimbulkan stress bahkan alergi. Sebaiknya, bunda memberi jeda setidaknya dua hari untuk setiap makanan sebelum lanjut ke makanan berikutnya.

Bagaimana? Berapa banyak kepercayaan ayah dan bunda terbantah dari penjelasan diatas? Satu dua atau malah semuanya ? Manapun itu, tidak masalah, namanya berubah tidak pernah terlambat. Nah, itu tadi mitos seputar makanan pendamping asi yang bisa jadi bunda ayah percaya.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a comment

Your email address will not be published.


*